:: Selamat Datang di Official Website Masjid Al Hikmah Toyan. Semoga bisa menjadi media berbagi dan media silaturahmi untuk saling memotivasi. Tingkatkan Ukhuwah, Jaga Istiqomah. Salam Ikhuwah. Indahnya Berbagi - Mari Menuju Kebaikan dan Perbaikan ::.
| Secara Bertahap Website Ini Akan Migrasi Ke Rumah Baru Kami | www.alhikmahtoyan.org

Rabu, 17 Oktober 2012

Suriah : Gerbang Sejarah Dan Tempat Lahirnya Peradaban

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Suriah memang memainkan peran tiada tandingannya dalam sejarah manusia. Suriah merupakan gerbang sejarah dan salah satu tempat lahirnya peradaban. Berjuluk Gateway to History atau pintu gerbang sejarah.

Begitulah julukan yang diberikan masyarakat dunia atas Suriah. Julukan lain adalah Craddle of Civilization, tempat lahirnya peradaban. Jika ditelusuri ke belakang, maka kemajuan peradaban zaman modern sekarang berasal dari perkembangan bangsa-bangsa di wilayah Suriah Kuno, yang mebentang dari pegunungan Taurus (Turki) hingga Sinai (dekat Mesir) dan dari Mediterania hingga ke daerah Sungai Eufrat (di Irak).

Di Suriah, manusia mulai mengembangkan pertanian dan pengetahuan tentang metalurgi dan alfabet pertama. Di Suriah pula tempat berkembangnya agama-agama, filosofi, perdagangan, bahasa, sistem pembangunan kota dan hubungan diplomatik dan budaya.

Dalam sejarah Islam, wilayah Suriah sekarang termasuk dalam negeri Syam, bersama Palestina, Libenon, Yordania. Negeri Syam dikenal sebagai negerinya pada Nabi. Dimana Allah menurunkan pria-pria pilihan dari kalangan manusia untuk menjadi pembimmbing bagi manusia lainnya agar senantiasa menyembah dan mentauhidkan-Nya.

Kota-kota Suriah, seperti Damaskus, Homs, dan Hama, yang belakangan sering disebut dalam konflik bersenjata antara rezim Presiden Bashar Al Assad dan pasukan oposisi, merupakan kota kuno yang selalu dihuni manusia.

Kota-kota itu tidak pernah mati hingga kini dan sampai akhir zaman, sebagaimana diyakini di Suriah itulah nantinya Al Mahdi akan muncul. Wilayah Suriah merupakan daerah yang subur dan posisinya strategis, karena menjadi jembatan menuju negeri-negeri lain yang berada di delapan penjuru mata angin. Maka tak heran, jika sejak dulu hingga kini, Suriah kerap disebut dalam catatan pertarungan antar bangsa di dunia.

Demikianlah, sejarah negeri pada nabi itu, yang selalu hadir dalam episode peradaban manusia, maka tidak aneh jika kemudian sejawawan Andre Parrot berkata, ”Setiap manusia yang berbudaya merupakan bangsa dari dua bangsa, yaitu bangsanya sendiri dan suriah. Allohu A’lam. *[adm]

Referensi : Hidayatullah

Selengkapnya → Suriah : Gerbang Sejarah Dan Tempat Lahirnya Peradaban

Jumat, 12 Oktober 2012

Budidaya Lele Sangkuriang – Pelaksanaan Budidaya

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Menyambung postingan tentang Budidaya Lele Sangkuriang – Sejarah, berikut ini akan dipaparkan tentang pelaksanaan budidaya lele sangkuriang. Selamat menyimak.

Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan ele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.

Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2. Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bagian tengah  sebelum benih ikan lele ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan adalah tentang kesiapan kolam meliputi hal-hal sebagai berikut.

Persiapan Kolam Tanah (Tradisional)
Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya. Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan menggunakan balok kayu agar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran.

Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor). Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibuat parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).  Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah.

Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam. Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam. Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2, urea 15 gram/m2, SP3 10 gram/m2, NH4N03 15 gram/m2.

Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring, kemudian dilakukan pengisian air kolam. Kolam dibiarkan selama ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.

Persiapan Kolam TembokPersiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat permanen.

Penebaran Benih
Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas.

Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam.

Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.

Pemberian PakanSelain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan uensinya 3-4 kali setiap hari.

Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet. *[adm]

Referensi : Mino Mitro

Selengkapnya → Budidaya Lele Sangkuriang – Pelaksanaan Budidaya