:: Selamat Datang di Official Website Masjid Al Hikmah Toyan. Semoga bisa menjadi media berbagi dan media silaturahmi untuk saling memotivasi. Tingkatkan Ukhuwah, Jaga Istiqomah. Salam Ikhuwah. Indahnya Berbagi - Mari Menuju Kebaikan dan Perbaikan ::.
| Secara Bertahap Website Ini Akan Migrasi Ke Rumah Baru Kami | www.alhikmahtoyan.org

Senin, 26 Agustus 2013

Beda Malam Kita Dengan Malam Mereka

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Manakah dari kedua golongan itu yang lebih berhak mendapatkan keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? (Al-An’am [6]: 81). Apa Beda Malam Kita Dengan Malam Mereka. Simak tulisan berikut ini.

Di dalam Al Quran kita banyak mendapati pertanyaan yang sesungguhnya tidak membutuhkan jawaban. Seperti juga dalam ayat di atas, Allah SWT ingin menguatkan pernyataan-Nya bahwa antara golongan orang yang berkarakter baik itu tidak sama dengan golongan orang yang tidak berkarakter.

Salah satu karakter yang baik dan unggul itu ditandai dengan kegiatan mereka di malam hari. Yang membedakan Malam Kita Dengan Malam Mereka. Orang yang berkarakter tidak cukup dilihat aktivitasnya di siang hari yang dipenuhi dengan berbagai kesibukan. Mereka juga perlu dipantau kehidupan malam harinya.

Dalam hal ini, apakah mereka ditengah malamnya berzikir atau sedang tidur? Apakah mereka berdiri menjalankan shalat atau mendengkur? Apakah mereka sedang bersujud atau mereka sedang bersenda gurau? Apakah mereka sedang menangis karena larut dalam doa dan zikir atau tertawa?

Ayat berikut ini kembali mempertegas perbedaan antara dua golongan, Allah SWT berfirman: (Apakah kamu orang-orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang-orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang-orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar [39]:9).

Lagi-lagi Allah mempertanyakan, apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Jawabannya jelas berbeda, seperti  perbedaan antara siang dan malam, antara gelap dan terang, antara hitam dan putih.

Apa Beda Malam Kita Dengan Malam Mereka. Perbedaan itu lebih lanjut dijelaskan dalam Al Quran: “sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di taman-taman (surga) dan mata air. Mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sebelumnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik, mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampun (Kepada Allah). (Adz-Dzariyat [15]; 15-18.

Tentang kualitas shalat malamnya Rasulullah SAW tidak perlu diragukan lagi, beliau sangat khusyu’ melebihi kekhusyu’kan siapapun. Adapun tentang lamanya beliau shalat malam, kembali ‘Aisyah menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW mengerjakan shalat sebelas rakaat. Satu sujud beliau pada waktu itu setara dengan lamanya seorang diantara Kmu membaca lima puluh ayat, sebelum beliau mengangkat kepala. Dan beliau ruku’ dua kali sebelum shalat fajar. Lalu beliau berbaring diatas sisi badan beliau sebelah kanan hingga muadzin mendatangi beliau untuk shalat. (Riwayat Bukhari).

Sungguh sangat jauh berbeda antara kualitas dan kuantitas shalat malam kita. Hari-hari kita masih banyak kita isi dengan senda gurau, menyaksikan tayangan televisi yang sia-sia, dan banyak tidur. Padahal, beliau mengisi waktu-waktunya untuk beribadah, bertaubat, bermunajat, dan taqarrub ilallah.

Alhamdulillah, masih ada di antara kita, meskipun belum optimal, orang-orang yang sangat serius memperhatikan waktu malamnya. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk tetap menghidupkan malam dengan memperbanyak amal salih. *[adm]

Referensi : Suara Hidayatullah | Foto : Google.com

Selengkapnya → Beda Malam Kita Dengan Malam Mereka

Senin, 19 Agustus 2013

Belajar Taubat Nasuha Dari Para Nabi

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Bagaimana Taubat Nasuha yang dicontohkan Rasulullah SAW? Berikut gambarannya.

Pertama, Adanya kesadaran setelah melakukan dosa. Setelah memahami bahwa perbuatan itu adalah dosa, maka ia segera menyadari keagungan Rabbnya, mengetahui kekurangan dirinya dalam mengikuti setan. Kesadaran jiwa adalah langkah awal manusia untuk bertaubat. Jiwalah yang akan mendorong hati untuk menyesal, kemudian bertekad untuk meninggalkan dosa itu. Lalu lidahnya beristighfar dan tubuhnya mencegah dari melakukan lagi (lihat surat Ali Imran [13] ayat 135).

Kedua, Adanya penyesalan dalam hati. Wajib bagi setiap muslim untuk menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukannya, sebab penyesalan merupakan salah satu syarat sahnya taubat, seperti yang Rasulullah SAW sabdakan, “Penyesalan adalah taubat,” (Riwayat Ahmad, Idnu Majah, Al-Hakim).

Ketiga, Berazam untuk meninggalkan selama-lamanya. Jangan sampai terjadi, pagi hari taubat sementara sore harinya kembali mengulangi lagi. Andai suatu saat tekad untuk berubah tersebut melemah, kemudian ia tertipu oleh setan sehingga terpeleset lagi, dan kembali bermaksiat, maka taubat itu tidak batal. Dalam kasus seperti ini, ia harus segera bertaubat lagi, menyesal dan menyusun tekad lagi, tanpa berputus asa bahwa taubatnya tidak diterima.

Keempat, Beristighfar. Meminta ampun kepada Allah SWT bisa dilakukan dengan cara memanjatkan doa sebagaimana diungkap Nabi Adam dan Hawa dalam kisah di atas (Al-A’raaf[7]:23). Contoh lain adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, ”Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahanku dengan air, salju dan embun. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahan seperti baju yang putih dibersihkan dari kotoran.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari A’isyah).

Kelima, Mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW kepada Abu Dzarr RA ketika beliau berwasiat kepadanya, “Bertaqwalah di manapun engkau berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (Riwayat Ahmad dan Tirmizi dari Abi Dzar).

Jika sudah terlanjur melakukan maksiat, seseorang hendaknya segera mengiringinya dengan kebaikan seperti shalat, sedekah, puasa, perbuatan yang baik, istighfar,berzikir, bertasbih, dan macam-macam perbuatan baik lainnya.

Demikian beberapa Taubat Nasuha yang dicontohkan Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bish-Shawab.*[adm]

Referensi : Suara Hidayatullah | Foto : Google.com

Selengkapnya → Belajar Taubat Nasuha Dari Para Nabi