:: Selamat Datang di Official Website Masjid Al Hikmah Toyan. Semoga bisa menjadi media berbagi dan media silaturahmi untuk saling memotivasi. Tingkatkan Ukhuwah, Jaga Istiqomah. Salam Ikhuwah. Indahnya Berbagi - Mari Menuju Kebaikan dan Perbaikan ::.
| Secara Bertahap Website Ini Akan Migrasi Ke Rumah Baru Kami | www.alhikmahtoyan.org
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Mei 2015

Membiasakan Anak Berpamitan

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Membiasakan anak berpamitan. Tulisan inilah yang akhirnya menginspirasi Sanggar Seni ABATA (SSA), Salah satu Unit Kegiatan Masjid Al hikmah Toyan, untuk membuat film indie bertema motivasi dengan judul Kembar Kembul (2008).


Film yang dikemas dengan pendekatan komedi itu dirilis pada Maret 2008, dan berkisah tentang dua orang saudara kembar, namun mempunyai tabiat yang sangat bertolak belakang. Misalnya, dalam hal keseharian di pagi hari, satu orang selalu membiasakan bangun pagi, mempersiapkan segala sesuatu dengan matang. Sementara saudara kembarnya bangun kesiangan, bahkan tidak mandi sebelum berangkat sekolah.


Dalam hal berpamitan kepada orang tua, saudara kembar ini pun mempunyai perbedaaan yang mencolok. Satu orang pamit untuk meminta restu dan doa orang tua diakhiri dengan cium tangan, sementara saudara kembarnya tidak berpamitan. Kalaupun berpamitan itu bukan karena mau meminta doa orang tua, melainkan meminta uang saku.

Hal ini, sekarang mungkin sudah jarang diperhatikan oleh orang tua. Apalagi dikalangan keluarga mampu. Ada yang beranggapan bahwa, ketia anak sudah dimasukkan disekolah favorit, kemudian segala kebutuhan akan sekolah dan kesehariannya terpenuhi, bagi mereka itu sudah cukup. Sehingga membiasakan anak berpamitan bukan lagi menjadi prioritas

Berpamitan mungkin dianggap sebagai hal yang sepele. Padahal dalam pamit, disitu pasti ada salam, ada seuntai doa mengiringi Si Anak. Pamit juga dapat menumbuhkan rasa empati dari orang tua, rasa nyaman bagi Si Anak dan tentu ada kontrol dari orang tua terhadap anak.

Yang tak kalah penting, bahwa membiasakan anak berpamitan ini dilakukan sejak usia dini, dengan harapan berpamitan dapat menjadi tabiat baik bagi Si Anak. Walllahu A’lam. *[SAP]

Ditulis oleh : Aan [Direktur TPA Al Hikmah Toyan]

Selengkapnya → Membiasakan Anak Berpamitan

Senin, 15 Juli 2013

Adab Berhias

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Islam memandang berhias sebagai bagian dari sunnah, sepanjang untuk kebaikan dan ibadah. Berhias merupakan bagian dari keindahan. Berikut akan dibahas, beberapa Adab berhias yang disyariatkan.

Pertama, Tidak memakai perhiasan yang berlebihan, islam memandang orang yang berlebihan-lebihan dalam masalah ini termasuk mengikuti perbuatan setan. Inilah yang dimaksud tabarruj, yaitu seorang perempuan yang keluar rumah dengan berjalan dihadapan laki-laki, dengan maksud memamerkan tubuh dan perhiasannya. Para Imam mazhab  sepakat bahwa perempuan yang menggunakan perhiasan berlebihan hukumnya haram.

Kedua, Untuk perempuan yang sedang berkabung karena ditinggal mati suaminya, tidak boleh berhias di badan seperti mewarnai rambutnya/anggota tubuh dengan inai (kidhab), menggunakan celak (iktihal) dalam segala jenis. Celak dibolehkan untuk berobat, yang penggunaannya di malam hari dan harus dihapus pada pagi hari. Dalilnya Hadist riwayat Ummu Athiyah RA, “kami tidak menggunakan wewangian, tidak menggunakan baju yang dicelup.” (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Ketiga, Tidak berhias dengan sesuatu yang dilarang, seperti wewangian yang mengandung alkohol. Menurut jumhur fuqaha, khamar adalah najis berdasar surat al-Maidah (5):90. Khamar yaitu setiap benda cair yang memabukkan berdasarkan Hadist “Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar adalah haram.” (Riwayat Muslim). Sedang khusus laki-laki tidak boleh memakai emas dan sutra. Rasulullah SAW bersabda “Telah diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanita.”

Keempat, Tidak berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah, yang bisa menimbulkan fitnah. Termasuk dalam menggunakan wangi-wangian yang berlebihan.  Rasulullah bersabda “Setiap perempuan mana saja yang terkena bau wangi, maka hendaklah dia tidak mengerjakan shalat Isya bersama kami.” (Riwayat Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasai).

Kelima, Tidak berhias diri dengan mengubah wujud aslinya seperti membuat tato badan, mencukur alis mata secara permanen. Rasulullah SAW bersabda “Allah melaknat yang menato, yang ditato, yang menganggur dan yang dipanggur.” (Riwayat Muslim). Rasulullah SAW melarang perbuatan al-Qaza’ yaitu mencukur sebagian kepala anak kecil dan membiarkan sebagian lainnya. Ibnul Qayyim Al-Qaza’ ada beberapa macam : mencukur satu bagian dari kepala dari sini dan sini seperti gumpalan awan yaitu yang bergumpal-gumpal, mencukur tengahnya dan membiarkan sisi-sisinya, mencukur sisi-sisinya dan membiarkan tengahnya, mencukur bagian depan kepala dan membiarkan bagian akhir.

Keenam, Bagi laki-laki melebatkan jenggot dan membiarkan tumbuh, dan memendekkan kumis dan mencukurnya. Hadist nya “Lebatkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (Riwayat Muslim)

Allah SWT senang dan menyukai keindahan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah lagi menyukai keindahan”. (Riwayat Muslim). Itulah beberapa adab berhias sesuai tuntutan Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat. *[adm]

Referensi : Suara Hidayatullah, Foto : Google.com

Selengkapnya → Adab Berhias

Rabu, 01 Juni 2011

Tidak Disiplin, PT KAI Pasang Palang Penampar

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Mengantisipasi penumpang yang kerap naik diatas gerbong, PT. Kereta Api Indonesia (KAI), akan memasang palang penampar dengan rambu halilintar.

Langkah itu diambil, setelah beberapa saat yang lalu PT. KAI, telah memasang semprotan air berwarna di beberapa stasiun, yang ternyata itu tidak menimbulkan efek jera. Bahkan dibeberapa stasiun semprotan air berwarna itu dirusak oleh oknum pengguna jasa angkutan yang paling murah ini.

Segala upaya nampaknya terus dilakukan PT. KAI untuk mengatasi adanya penumpang yang kerap naik diatas gerbong tersebut. Nyatanya, hasilnya juga tidak memuaskan. Masih saja ada penumpang yang nakal yang melakukan hal tersebut.

Entah dengan alasan apapun, hal itu mestinya tidak dibenarkan. Selain membahayakan diri sendiri, hal itu juga membahayakan keselamatan orang lain. Itulah salah satu sikap tidak taat, tidak patuh terhadap aturan yang ada. Atau dalam bahasa lain tidak disiplin.

Disiplin menyangkut dua hal yaitu sikap mental (attitude) dan perilaku (behavior). Bukankah Islam telah mengajarkan disiplin akan segala hal. Disiplin dibangun melalui kepatuhan seseorang dalam menjalankan kewajiban, karena ajaran dan latihan disiplin itu adalah bagian integral dari semua ibadah. Salah satunya melalui shalat.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimanakah kualitas shalat kita. Apakah kita telah memahami hakekat shalat. Lalu, apakah telah berbanding lurus dengan tegaknya disiplin. Ataukah shalat masih dipandang sekadar ritual rutinitas belaka. Allohu A’lam. *[adm]

Selengkapnya → Tidak Disiplin, PT KAI Pasang Palang Penampar

Minggu, 08 Mei 2011

Kejujuran, Mahalkah ?

Rabu, 20 April 2011, kira-kira pukul 15.45 WIB, sepulang dari “glidik, ngupadi upo [bekerja, mencari sesuap nasi]”, penulis menyempatkan diri, mampir ke bekas lapangan voli, sekarang sering digunakan anak-anak bermain sepak bola, yang letaknya di sebelah Barat Laut, Masjid Al Hikmah Toyan.

Sore itu, anak-anak yang notabene adalah santri Taman Pendidikan Al Qur’an Al Hikmah Toyan, sedang melakukan latihan bersama dengan anak-anak kampung tetangga. Pertandingan berlangsung menarik dan diselingi canda tawa dari pemain, dan tanpa ada wasit.

Gol demi gol-pun tercipta. Yang menarik adalah, ketika dalam suatu kesempatan, terjadi handball. Karena pertandingan berlangsung cepat dan tidak ada wasit, Si anak yang melakukan handball tersebut dengan reflek, mengatakan, “aku handball”. Penulis tersenyum, ”luar biasa”, itulah keceriaan, kepolosan, dan kejujuran anak-anak.

Mungkin, dalam sebuah pertandingan resmi, tidak ada seorang pemain yang melakukan pelanggaran (handball, misalnya), langsung mengakui. Kebanyakan yang ada, pemain itu berusaha mengelak atau justru menyalahkan wasit, ketika itu merugikan tim yang dibelanya.

Bagi anak-anak itu, kepuasan adalah ketika mereka bisa berkumpul dengan teman-teman, tertawa dengan lepas dan mengekspresikan hobby mereka. Anak-anak itu, tidak butuh kemenangan yang harus diperoleh dengan tidak jujur bahkan dengan cara-cara kotor.

Urgensinya, mengambil hikmah dari pengalaman itu, bahwa jujur secara fitrah adalah sifat manusia. Ketika fitrah itu tidak dibiasakan, tidak dijaga, tidak dipupuk mulai dari situasi keluarga, lingkungan serta kondisi dimana dia tumbuh dan berkembang tidak mendukung dan tidak membiasakan kejujuran itu, maka fitrah itu akan hilang, seiring usia mereka menginjak dewasa, 20 atau 30 tahun yang akan datang. Wallohu Alam bi Showab *[adm]

Ditulis oleh : Aan [Direktur TPA Al Hikmah Toyan]

Selengkapnya → Kejujuran, Mahalkah ?

Minggu, 01 Mei 2011

Teroris Itu Bernama Narkoba

… bumi ini seakan runtuh, mendengar berita putra tunggal kesayangannya meninggal akibat overdosis …

Penggalan cerita di atas sering kita baca dan akrab di telinga kita dewasa ini. Satu potret buram perjalanan kehidupan bangsa ini, dimana fenomena penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotik, Psikotropika dan Bahan Berbahaya lainnya (NARKOBA) dengan berbagai implikasi dan dampak negatifnya, menjadi sebuah masalah Nasional-Internasional yang sangat kompleks, sedemikian merusak serta mengancam kehidupan masyarakat terutama kalangan generasi muda.

Ketika pergaulan bebas sudah menjadi trend dikalangan generasi muda sekarang ini, ketika itu pula norma-norma susila menjadi sangat tidak diindahkan lagi di komunitas mereka. Kehamilan di luar nikah akibat sex bebas, NARKOBA/drug seakan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari mereka. Apa yang terjadi gerangan ? Kemerosotan moral dan kerusakan akhlak generasi muda sebagai wujud lemahnya iman dan taqwa terhadap Tuhan-kah ?

Sementara di sisi lain ada sekelompok kecil generasi muda yang begitu bersemangat dengan jiwa mudanya mengadakan kegiatan-kegiatan positif seperti kajian keagamaan, seminar tentang AIDS, seminar kenakalan remaja, NARKOBA dan Sex Bebas serta kegiatan lain yang begitu mencerminkan keinginan pencerahan pada pribadi mereka dan lingkungannya.

Ironis memang, ketika kita melihat dua sisi tersebut. Kemudian siapa yang patut dipersalahkan ? Orang tua karena keluarga broken home, lingkungan, komunitas mereka, Kepolisian, Ulama, atau kesalahan diri mereka dalam memilih teman ? Terlepas dari siapa yang salah, dengan mencoba berpikir positif, bahwa wacana yang ada adalah tanggung jawab semua pihak dan harus ditangani secara simultan dan holistik. Artinya permasalahan yang ada harus ditangani dengan keterpaduan dan kepedulian dari semua pihak mulai dari pemakai, keluarga, kepolisian, dan masyarakat luas.

Menyikapi fenomena tersebut Pemerintah sebagai Institusi yang Legal Formal telah mengeluarkan peraturan perundangan baik tentang Narkotika maupun tentang psikotropika. yang mengancam pelaku dengan klasifikasi tingkat hukuman tidak tanggung-tanggung, baik sebagai pengguna, pengedar maupun produsen.

Dilihat dari sisi medis, Narkotik dan zat Psikotropika merupakan jenis obat yang diperlukan dalam dunia kedokteran untuk proses pengobatan dan penelitian yang dalam penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan psikis maupun fisik yang sangat merugikan apabila tanpa pengawasan yang seksama. Salah satu ciri ketergantungan dapat berupa sindroma putus obat (Withdrawal syndrome) yaitu pada saat tidak dipakainya lagi Narkotik dan psikotropika tesebut, dimana hal ini akan menimbulkan gejala pada tingkat yang ringan sampai dengan tingkat berat yaitu kematian bila tidak ditangani dengan benar.

Melihat kondisi yang ada, teknik pendekatan terhadap penyalahgunaan NARKOBA yang dirasa paling efektif adalah suatu pendekatan Psikologis Religius. Artinya urgensitas pemahaman tentang nilai-nilai agama adalah suatu kebutuhan yang begitu besar dan sangat mendesak ditamankan sejak usia dini dalam keluarga sebagai fondasi awal sebelum akhirnya mereka memasuki dunia sekolah, teman sebaya, rekan kerja, dan komunitas yang lain. Sehingga ketika akhirnya individu-individu tersebut menemui komunitas tertentu yang bergelut dengan NARKOBA, dengan dasar pemahaman tentang nilai-nilai subtantif keagamaan, mereka akan mempunyai perisai yang cukup kuat agar tidak terjerumus dalam lingkaran mereka.

Akhirnya, memotret hitam-putihnya dunia NARKOBA, kita sebagai generasi muda tidak perlu menjadi pelaku sejarah sebagai pengguna, pengedar atau bahkan produsen NARKOBA, kita harus berani mengatakan tidak untuk NARKOBA, tabuh genderang perang terhadap NARKOBA, “ Say No To Drug “, jangan pernah mencoba, karena kita adalah manusia yang mempunyai budaya dan agama ... Berani Mencoba ... Nyawa Taruhannya. *[adm]

Ditulis oleh : Aan [Direktur TPA Al Hikmah Toyan, 30.05.2005]

Selengkapnya → Teroris Itu Bernama Narkoba