:: Selamat Datang di Official Website Masjid Al Hikmah Toyan. Semoga bisa menjadi media berbagi dan media silaturahmi untuk saling memotivasi. Tingkatkan Ukhuwah, Jaga Istiqomah. Salam Ikhuwah. Indahnya Berbagi - Mari Menuju Kebaikan dan Perbaikan ::.
| Secara Bertahap Website Ini Akan Migrasi Ke Rumah Baru Kami | www.alhikmahtoyan.org
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juni 2014

Jangan Salah Memilih Lingkungan Dan Teman


[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Salah satu masa perkembangan psikologi dalam menuju dewasa adalah proses pencarian jati diri. Masa yang sangat riskan apabila tidak ada kontrol dan pengawasan dari orang tua.


Lingkungan dan teman bermain, memegang peranan penting dan perlu mendapat perhatian khusus. Tak ayal, ketika kemudian faktor ini akan sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian dan pola pikir. Faktor rasa ingin tahu yang tinggi menjadi ciri khas masa ini, dan jika tidak diarahkan dan disalurkan akan menjadi bumerang bagi si anak di kemudian hari.

Idealnya, perlu adanya kegiatan-kegiatan positif guna menjawab rasa ingin tahu itu. Banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh remaja pada masa ini adalah merupakan salah satu bagian dari ”salah memilih lingkungan dan teman” [lihat juga tulisan kejujuran mahalkah]. Dengan banyaknya varian dan pilihan bagi remaja untuk melakukan deviasi, sangat dimungkinkan ketika akhirnya remaja terjebak dalam pilihannya. Hal ini, diperparah dengan jarangnya kegiatan positif di lingkungan masyarakat.

”Back to Masjid”, nampaknya menjadi opsi dan solusi yang harus diambil. Bentuk kegiatan-kegiatan positif sebagai Unit Kegiatan Masjid. Sesuaikan kegiatan dengan keinginan Remaja Islam yang ada, sebagai wadah mengimplementasikan kreatifitasnya serta mengekspresikan diri. Dengan Unit Kegiatan Masjid yang ada diharapkan, lingkungan yang bersifat homogen akan terbentuk, sehingga akan lebih mudah dikontrol [lihat juga tulisan masjid sebagai pusat pergerakan].

Tak salah kalau kemudian, Sabda Rasulullah SAW, Jikalau kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan ikut wangi, sebaliknya jika kita berkawan dengan pandai besi, maka kita akan bau bakaran. Allah SWT A’lam. *[adm]

Ditulis oleh : Aan [Direktur TPA Al Hikmah Toyan]

Selengkapnya → Jangan Salah Memilih Lingkungan Dan Teman

Jumat, 09 Mei 2014

Tebarkan Salam, Allah Akan Tinggikan Derajatnya


[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Rasulullah SAW bersabda, ”Salam adalah salah satu Asma Allah yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah.”


Sekedar mengingat masa lalu, dalam stiker yang pernah dibuat oleh Remaja Islam Masjid Al Hikmah Toyan, kurang lebih pada Tahun 2003, tertulis ”If you a good moslem say Assalamu ’alaikum”. Stiker itu dibuat dengan harapan agar, salam dapat menjadi sebuah gaya hidup keseharian kita sebagai muslim yang baik.

Di kondisi saat ini, nampaknya salam menjadi sebuah sesuatu yang tidak familier dilakukan. Salam hanya diucapkan dalam acara-acara resmi sebagai pembuka dan penutup kegiatan. Selebihnya dalam keseharian, saudara kita muslim lebih nyaman untuk mengucapkan Selamat Pagi, Selamat Siang, atau Selamat Malam untuk menyapa. Kenapa hal ini bisa terjadi. Apakah mereka malu karena mengucapkan salam ?

Dalam setiap pembelajaran Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Al Hikmah Toyan, setiap santri atau ustadz yang datang, diwajibkan untuk mengucapkan salam dengan lantang dan jelas.

Demikian pula ketika pembelajaran TPA akan berakhir, setiap ustadz yang menutup pengajian, pasti mengucapkan ”Jangan lupa budayakan ...”, yang kemudian dijawab oleh semua santri dengan ”Salam dan Senyum”. Ini semata dilakukan, untuk selalu mengingatkan betapa pentingnya salam kepada saudara kita sesama muslim.

Sering kita mengalami dalam keseharian, ketika ada seseorang yang kita temui, lalu beliau menitipkan salam kepada orang lain yang kita kenal, biasanya mereka mengatakan, ”Titip salam buat Si Fulan”. Nah, ini mestinya menjadi kebiasaan baik. Yang pada intinya, Si Penitip salam mendoakan keselamatan pada orang yang di beri salam itu.

Lepas dari semua itu, bukankah Islam itu indah. Karena, dalam salam itu ada doa dan kebaikan. Hal ini berlaku, baik bagi yang memberi salam maupun yang menjawab salam. Bukankah dalam hadist lain, Rasulullah SAW, telah mengajarkan kepada kita untuk saling mendoakan saudaranya sesama Muslim.

Oleh karenanya, mari budayakan salam disetiap kesempatan, saling mendoakan melalui salam dimanapun kita berapa. Tentu kepada sesama Muslim. Allah SWT A’lam. *[adm]

Ditulis oleh : Aan [Direktur TPA Al Hikmah Toyan]

Selengkapnya → Tebarkan Salam, Allah Akan Tinggikan Derajatnya

Senin, 21 Januari 2013

Sempurnakan Iman Dengan Cinta Rasul

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Pada suatu ketika, di hadapan para Sahabatnya, Rasulullah SAW, memegang tangan Umar bin Khaththab dengan lembut. Mendapati hal itu, Umar lalu berkata, ”Wahai Rasulullah, engkau pasti aku cintai melebihi segalanya kecuali diriku.”

Nabi SAW kemudian bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, ”Tidak! Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, engkau tidak beriman sehingga engkau mencintaiku melebihi dirimu sendiri.”  Umar lalu berkata, ”Demi Allah, sekarang aku mencintaimu melebihi diriku sendiri.” Lalu Rasulullah bersabda lagi, ”Sekarang (telah sempurna imanmu) wahai Umar.”

Kecintaan kepada Rasulullah SAW memang mutlak, sebagaimana cinta kepada Allah SWT. Itulah sebabnya jika kecintaan kita kepada selain keduanya melebihi kecintaan kita kepada keduanya, maka Allah SWT akan mengecam hal itu.

Allah SWT berfirman dalam Surat At-Taubah [9]:24, Katakanlah,”Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Belajar dari Umar, mari kira selalu berusaha untuk mencintai Rasulullah SAW. Sabda Rasulullah, ”Sesungguhnya engkau akan bersama-sama dengan orang yang kamu cintai.” Dengan mencintai rasulullah, semoga kita semua dapat bersama-sama mereka nanti di akhirat, sekalipun tidak bisa beramal seperti amal baik mereka. Aamiin. *[adm]

Referensi : Suara Hidayatullah | Rasul Menyeru Bertauhid | Tips Mengimani Rasul

Selengkapnya → Sempurnakan Iman Dengan Cinta Rasul

Kamis, 19 April 2012

Tujuh Kiat Menjernihkan Hati

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Agar struktur ruhani dan mata hati seseorang tetap tajam untuk melihat kesejatian, berikut akan disampaikan kiat-kiatnya.

Pertama, mengubah cara pandang tuhan, diri sendiri (susunan fisik dan ruhani), misi kehadirannya di dunia dan alam. Ini merupakan langkah dasar dalam rangka mentauhidkan-Nya, yaitu mempersembahkan sebaga bentuk ibadah hanya kepada-Nya dan membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada selainn-Nya.

Kedua, berinteraksi secara intensif dengan Al Qur’an dan menghayati maknanya. Allah SWT mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita (kekafiran) kepada cahaya (iman) yang terang benderang dengan se-izinnya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Ketiga, banyak berzikir ketika berada dalam keramaian maupun sendirian. Dengan banyak berzikir akan timbul perasaan takut kepada Allah SWT dan berusaha untuk senantiasa menghadirkan-Nya dimana pun kita berada.

Keempat, Mengembara ke akhirat dan mengingat kematian. Mata hati akan selalu jernih dan tajam ketika selalu diajak mengembara ke alam akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana dan merasa seperti telah menjadi penghuninya.

Kelima, Rajin melakukan Shalat Malam, Sabda Rasulullah, tetaplah kalian melakukan shalat malam. Sebab Shalat malam merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Mendekatkan diri kepada Allah SWT, mencegah dosa, mengapus kejahatan dan mengusir penyakit adan.

Keenam, Berkumpul dengan orang saleh. Diantara ciri orang yang saleh, adalah taat dan kontinyu beramal saleh serta selalu berusaha mengikhlaskannya, menyibukkan diri dengan kelemahan dirinya sendiri, tidak sibuk dengan aib orang lain, dan bersemangat dalam menghadapi permaalahan ummat.

Ketujuh, Banyak bermuhasabah. Muhasabah adalah menghisab dirinya ketika selesai melakukan suatu amal peerbuatan /pekerjaan. Muhasabah adalah indikator penting ketakwaan seseorang. Allohu A’lam. *[adm]
Referensi : Kiat menjadi pendengar yang baik

Selengkapnya → Tujuh Kiat Menjernihkan Hati

Rabu, 14 Maret 2012

Islam Mewanitakan Wanita

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) ...” QS. An Nisaa’ [4] : 34.

Kewajiban seorang wanita tentu berbeda dengan kewajiban seorang laki-laki. Perbedaan ini sudah sangat jelas disebutkan oleh Allah SWT dalam banyak ayat Al Qur’an. Kewajiban berbusana, misalnya diwajibkan menutup rambutnya, sedangkan laki-laki tidak.

Logikanya, bila kewajiban berbeda, maka hak pun berbeda. Wanita berhak memperoleh nafkah dari laki-laki dan sebaliknya, laki-laki berkewajiban memberi nafkah kepada wanita.

Itulah keseimbangan yang sudah diatur oleh Allah SWT, lewat ajaran Islam yang amat indah, sebagaimana Allah SWT juga mengatur tata surya melalui sistem keseimbangan yang sempurna.

Bila keseimbangan itu diganggu, terjadilah kekacauan. Bulan, misalnya, janganlah menuntut untuk dikelilingi bumi, dan sebaliknya bumipun jangan merasa enggan dikelilingi oleh bulan.

Begitu pula seharusnya laki-laki dan wanita. Wanita selayaknya diwanitakan, jangan dilaki-lakikan. Biarkan wanita menjalankan kewajibannya sebagai wanita, dan mendapatkan haknya pula sebagai wanita. Karena begitulah fitrah yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Pada masa lalu, Rasulullah SAW sangat mewanitakan wanita. Dalam peperangan, misalnya, wanita diposisikan di barisan belakang untuk memperkuat tim medis atau membantu logistik. Sementara laki-laki berada di front depan.

Begitulah Islam. Segala sesuatu tidak diukur dengan nafsu, namun ditujukan semata mencari ridha Allah SWT. Jika menjadi ibu rumah tangga bisa mengantarkan seorang wanita kepada kemuliaan, maka pekerjaan itulah yang akan dipilihnya. Sebaliknya, jiuka keadaan memaksa seorang wanita harus mencari nafkah di luar rumah, maka itu dilakukannya dengan ikhlas, untuk mencari ridha Allah SWT, bukan demi persamaan hak atas kaum laki-laki. Wallahu A’lam. *[adm]
Referensi : Cinta dengan Senyuman | Suara Hidayatullah

Selengkapnya → Islam Mewanitakan Wanita

Senin, 06 Februari 2012

Jangan Takut Kaya, Jangan Pula Takut Miskin

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Bagi orang yang beriman, kemiskinan itu bukan aib, bukan cacat, bukan pula kehinaan. Karena kemiskinan bukan penghalang bagi Muslim untk berbuat kebaikan.

Dalam keadaan miskin, kita masih bisa berbuat baik, beramal saleh, bahkan masih bisa membantu orang lain. Meskipun demikian, tetap disadari bahwa banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang miskin. Menjalankan ibadah haji, misalnya, hanya diperintahkan bagi orang yang berkesanggupan. Berinfak dan berzakat juga demikian.

Karunia Allah SWT itu ada dimana-mana, bisa didapatkan dengan berbagai cara. Semua telah dibuat mudah bagi aorang yang mau bekerja dan menggerakkan sumber daya yang dimilikinya.

Jangan takut kaya, sebab kekayaan juga dapat membantu kita. Dengan kekayaan kita bisa menjalankan berbagai amal kebaikan. Dengan kekayaan kita bisa membantu orang lain yang membantu kesulitan. Dengan kekayaan bahkan kita bisa menjayakan agama Allah SWT.

Lebih jauh lagi Rasulullah SAW, menegaskan tentang pentingnya harta. Beliau bersabda, ”Pada akhir zaman kelak manusia harus menyediakan harta untuk menegakkan urusan agama dan urusan dunianya”. (Riwayat Ath Thabrani).

Jangan takut kaya sebagaimana kita juga kita tak boleh takut miskin. Semakin kaya, semakin banyak ladang amal kita, semakin banyak orang yang kita bantu, semakin banyak orang yang bisa kita bangun, semakin banyak infak yang kita keluarkan karenanya. Allohu A’lam. *[adm]
Referensi : Harta dan Tanggung Jawab | Jadilah Pewaris Kebaikan

Selengkapnya → Jangan Takut Kaya, Jangan Pula Takut Miskin

Jumat, 03 Februari 2012

Perda Miras, Dicabut?

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Awal tahun ini masyarakat dikejutkan oleh keinginan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) mencabut Peraturan Daerah (Perda) tentang pelarangan minuman keras yang diterbitkan oleh sembilan pemerintah daerah.

Alasan Pak Menteri sederhana saja. Ia menganggap sembilan perda tersebut bertentangan dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 3 Tahun 1997 tantang Pengawasan dan pengendalian minuman beralkohol yang levelnya berada di atas perda-perda tersebut.

Dalam Keppres tersebut dijelaskan bahwa minuman beralkohol golongan A (dengan kadar etanol 0-5 persen) diperbolehkan untuk diproduksi, diedarkan dan dijualbelikan. Jadi, Menurut Pak Menteri jika ada perda yang melarang pengedaran minuman beralkohol dengan kadar berapa pun, itu bertentangan dengan Keppres yang justru membolehkan minuman beralkohol golongan A.

Pak Menteri rupanya memilih untuk mengambil keputusan yang amat berani. Keputusan itu kelak akan ia pertanggungjawabkan ke hadapan Sang Khaliq di pengadilan Akhirat. Senyatanya, sungguh naif jika jabatan tersebut justru akan mengantarkan kita kepada murka Allah SWT.

Ada baiknya kita luruskan niat terlebih dahulu sebelum kita memutuskan untuk menjadi pejabat publik. Tanyakan kepada hati kecil apa yang ingin kita cari dengan jabatan tersebut? Apakah ridha Sang Maha, atau sekedar memuaskan nafsu semata. Semoga Pak Menteri mau memikirkan kembali rencana pencabutan perda miras itu. Allohu A’lam. *[adm]
Referensi : Suara Hidayatullah | Pembentukan Karakter Sejak Dini | Krisis Moral

Selengkapnya → Perda Miras, Dicabut?

Selasa, 11 Oktober 2011

Menjadi Orang Kuat dan Tangguh

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Orang yang kuat itu bukan orang yang (tak terkalahkan) saat berkelahi, akan tetapi orang yang kuat adalah mereka yang dapat mengendalikan dirinya pada saat emosi.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud).

Ketika melihat orang yang berbadan tinggi, tegap dan berotot, kita langsung membenarkan bahwa orang tersebut kuat. Kekuatan selalu kita ukur secara fisik. Padahal tidak demikian dengan Rasulullah SAW.

Orang kuat menurut Rasulullah SAW, adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya saat hatinya bergejolak marah. Pada saat seperti itu, ia mampu menahannya dengan kesabaran dan mengalahkannya dengan keteguhan hati. Ia tidak seenaknya mengeluarkan caci maki, kata-kata murka dan kotor.

Orang yang tidak dapat mengendalikan nafsu marahnya akan mudah tersulut, terprovokasi dan terpancing oleh hal-hal yang semestinya tidak perlu sampai membangkitkan amarahnya.

Nafsu yang selalu mendorong manusia untuk tidak memperdulikan aturan dan tidak mengindahkan kehormatan inilah yang harus disembuhkan dengan pelatihan-pelatihan yang intensif dan pendidikan yang mencerahkan. Kita harus mampu memblokir semua jalan keinginan nafsu yang menghancurkan itu.

Betapa banyak orang yang jatuh kehormatannyahanya gara-gara tidak mampu menahan amarahnya. Seorang akademisi tidak lagi bicara ilmiah jika sedang marah. Seorang ustadz tidak lagi berkata santun saat marah. Seorang ibu tidak lagi berkata lembut kepada anaknya ketika marah.

Tidak salah lagi jika Rasulullah mendefinisikan orang yang kuat sebagai orang yang mampu menahan amarahnya. Semoga kita semua diberikan kekuatan dan hidayah agar selalu dapat menahan amarah. Aamiin. *[adm]
Referensi : Hidayatullah

Selengkapnya → Menjadi Orang Kuat dan Tangguh

Kamis, 08 September 2011

Jadikan Idul Fitri Sebagai Momentum Peningkatan Diri

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Selasa, 30 Agustus 2011, Pukul 07.00 WIB bertempat di Komplek Jembatan Timbang Kulwaru dilaksanakan Sholat Idul Fitri 1432 Hijriyah dengan Iman dan Khatib Ustadz M. Sigit Prasetyo.

Dalam Khutbahnya Sigit menjelaskan bahwa, setelah ditempa selama kurang lebih 1 (satu) bulan dalam Ramadhan 1432 Hijriyah ini, diharapkan masing-masing pribadi dapat bermuhasabah, mencari kekurangan diri untuk kemudian dapat memperbaiki diri pada kesempatan selanjutnya.

Lebih lanjut Sigit menambahkan, tentang pentingnya peningkatan kualitas diri. Khususnya dalam hal kualitas beribadah kepada Allah SWT. Ibadah-ibadah yang selama Ramadhan telah dilakoni dengan baik dan rutin, seyogyanya dipertahankan bahkan ditingkatkan.

”Ramadhan adalah tempat manusia yang beriman ditempa dengan dengan berbagai macam ibadah dan amaliyah”, kata Sigit.

Setelah ramadhan, dengan kesucian yang telah didapat, mampukah kita mempertahankan fitrah tersebut dalam 11 (sebelas) bulan lainnya. Ataukah kita akan kembali kepada perilaku-perilaku yang menyimpang dari norma dan ajaran Islam.

Semoga kita semua digolongkan oleh Sang Maha, ke dalam golongan orang beruntung dan istiqomah di jalan-Nya. *[adm]
Referensi : 10 Hari Pertama | 10 Hari Terakhir

Selengkapnya → Jadikan Idul Fitri Sebagai Momentum Peningkatan Diri

Rabu, 31 Agustus 2011

Esensi Dan Pemaknaan Idul Fitri

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – 1 Syawal nampaknya akan selalu menjadi hari spesial bagi ummat muslim sedunia. Pasalnya setelah 1 (satu) bulan penuh melaksanakan ibadah puasa ramadhan, hari itu ummat muslim merayakan hari raya Idul Fitri.

Demikian juga dengan Keluarga Besar Masjid Al Hikmah Toyan, Selasa, 30 Agustus 2011 akan menandai selesainya puasa ramadhan, untuk kemudian kembali diperbolehkannya makan minum di siang hari. Tentu tidak salah apabila Idul Fitri disambut dengan makan dan minum yang tak biasanya diadakan oleh keluarga.

Namun lebih dari itu, esensi dari Idul Fitri adalah kembalinya seseorang kepada fitrah asalnya yang suci sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibunya. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyambut Idul Fitri.

Pertama, perlunya rasa penuh harap kepada Sang Maha untuk diampuni dosa-dosa yang telah lalu. Janji Allah SWT akan ampunan sebagai buah dari kerja keras sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa.

Kedua, perlunya melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan dahaga saja. Sabda Rasulullah SAW, “Banyak sekali orang yang berpuasa, yang puasanya hanya sekedar menahan lapar dan dahaga“.

Ketiga, berusaha mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam beribadah. Berusaha tetap istiqomah dan konsisten mengimplementasikan ibadah yang telah dilalui selama ramadhan di 11 (sebelas) di luar ramadhan.

Semoga selepas Ramadhan 1432 Hijriyah ini, kita diberikan kemudahan dan kekuatan untuk tetap menjalankan ibadah sebagaimana ramadhan. Aamiin. *[adm]
Referensi : Mimbar Jumat | Idul Fitri

Selengkapnya → Esensi Dan Pemaknaan Idul Fitri

Selasa, 30 Agustus 2011

Saatnya Pembuktian Diri Setelah Ramadhan 1432 Hijriyah

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Usai sudah Ramadhan, Hati Cemas dan Khawatir, Semoga Ibadah Kita di Bulan Suci Ini Cukup Berharga Dihadapannya. Tulisan itulah yang selalu ada di Kartu Lebaran Al Hikmah Toyan.

Rasanya tidak muluk, setelah 1 (satu) bulan penuh melaksanakan ibadah di bulan suci ini kita berharap bahwa apa yang telah kita lakukan menjadi sebuah catatan yang berharga, sebagai bagian dari persaksian diri kita sebagai hamba-Nya.

Tentu tak cukup dengan berharap, Bulan Syawal dan 11 (sebelas) bulan di luar ramadhan telah menanti pembuktian diri kita dari apa yang telah kita dapat di candradimuka ramadhan.

Pertanyaan klasik mungkin, bagaimana dengan masjid atau tempat-tempat ibadah yang selama ramadhan selalu ramai dengan jamaah dan kegiatan. Apakah akan sepi, kembali berdebu sebagaimana sebelum ramadhan.

Tentu berharap tidak demikian adanya. Semoga semangat ramadhan tetap melekat pada masing-masing diri kita. Tetap ramaikan dan hidupkan masjid dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat untuk pengembangan kompetensi diri dan peningkatan ibadah dalam rangka menggapai ridho illahi.

Segenap Keluarga Besar Masjid Al Hikmah Toyan mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriyah. Taqobbalallohu Minna Wa Minkum. Semoga diberikan umur panjang dan berkah serta dipertemukan lagi dengan Ramadhan Mubarak 1433 Hijriyah. Aamiin. *[adm]
Referensi : Esensi dan Pemaknaan Idul Fitri

Selengkapnya → Saatnya Pembuktian Diri Setelah Ramadhan 1432 Hijriyah

Rabu, 24 Agustus 2011

I’tikaf Di 10 Hari Terakhir Ramadhan

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – I’tikaf pada 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan adalah sunnah Rasullulah SAW. Untuk mengisi hari-hari terakhir di bulan suci tersebut, beliau memilih beri’tikaf di masjid.

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ’Anha. Istri Nabi mengatakan bahwa, ”Nabi SAW selalu beri'tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau ... ”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Ada beberapa Adab dalam melaksanakan i’tikaf diantaranya : Pertama, niat yang benar. I’tikaf dilakukan semata-mata untuk mengharapkan ridho Allah SWT dan menghidupkan Sunnah Rasullulah SAW. Kedua, dilaksanakan di masjid. Ini didasarkan pada firman Allah SWT QS. Al Baqarah [2] : 187, ”Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid”.

Ketiga, memutus atau menghentikan sementara waktu kegiatan yang berhubungan dengan keduniaan. Hal ini dilakukan agar selama i’tikaf bisa berkonsentrasi hanya untuk beribadah.

Keempat, tidak keluar dari masjid kecuali hanya untuk memenuhi hajat yang mesti dilakukan. Aisyah, berkata, ”Sungguh Nabi SAW pernah menjulurkan kepala beliau kepadaku ketika sedang berada di masjid lalu akau menyisir rambut beliau. Dan beliau tidaklah masuk ke rumah kecuali ketika ada keperluan (buang hajat). (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Kelima, tetap menjaga amaliyah ibadah pagi dan sore, seperti zikir pagi dan sore, shalat dhuha, shalat rawatib, shalat lail, dan amal ibadah yang lain. Keenam, memperbanyak amalan sunnah dengan melakukan berbagai macam ibadah seperti membaca Al Qur’an, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, memperbanyak shalawat kepada Rasullullah SAW. Juga mentadabburi Al Qur’an, membaca terjemahannya, serta membaca hadist-hadist nabi.

Ketujuh, sedikit makan, minum, dan tidur dengan tujuan untuk melembutkan hati dan melatih kekhusyukan hati serta tidak membuang waktu yang sia-sia. Kedelapan, selalu menjaga kebersihan dan kesucian diri dan tempat i’tikaf. Selalu menjaga wudhu, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Demikian beberapa adab i’tikaf. Semoga bermanfaat. Allohu A’lam. *[adm]
Referensi : Hidayatullah | Refleksi 10 Hari Pertama | 10 Hari Terakhir, Istiqomah ?

Selengkapnya → I’tikaf Di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Selasa, 23 Agustus 2011

10 Hari Terakhir, Masihkah Istiqomah

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Banyak yang mengibaratkan bahwa hari-hari di 10 hari terakhir Ramadhan adalah pertandingan partai final yang menyisakan kontestan dengan jumlah sedikit.

Kebutuhan yang seringkali tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah ramadhan sudah mulai dipikirkan. Baju baru, persiapan lebaran, hidangan lebaran, mudik menjadi kebutuhan yang kadang mulai memalingkan kita dari kekhusyukan ibadah selama 10 (dua puluh hari) akhir ramadhan.

“Adalah Rasulullah SAW jika telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari-Muslim).

10 hari terakhir adalah saat- saat dimana malam “Lailatul Qadar” akan turun. Merupakan malam-malam ganjil yang paling agung di sekian malam bulan Ramadhan. Saat dimana ribuan malaikat akan turun ke Dunia dan mengabulkan hajat dari setiap Hamba yang berdoa.

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat, dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar. (Q.S Al Qodr : 1-5).

Ada beberapa tanda- tanda yang mungkin dapat kita amati, seperti yang diriwayatkan dalam Hadits riwayat Muslim : “Pada hari itu matahari bersinar tidak terlalu panas dengan cuaca yang sangat sejuk”. “Dan pada malam harinya langit tampak bersih, tidak tampak awan sedikitpun, suasana sunyi dan tenang, serta tidak terlalu dingin maupun terlalu panas” (H.R Ahmad). *[adm]
Referensi : Refleksi 10 Hari Pertama Ramadhan

Selengkapnya → 10 Hari Terakhir, Masihkah Istiqomah

Selasa, 16 Agustus 2011

Refleksi 10 Hari Pertama Ramadhan 1432 Hijriyah

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Rabu, 10 Agustus 2011 adalah hari terakhir dari tahapan pertama yang ada pada Bulan Ramadhan. 10 (sepuluh) hari pertama ini adalah tahapan pelimpahan rahmat. Lalu, apa yang mestinya kita lakukan.

Koreksi atas diri menjadi hal yang wajib dilakukan sebagai muslim yang baik. Muhasabah ini dilakukan dalam rangka memotret diri, untuk kemudian dijadikan acuan dalam menyambut 10 (sepuluh) hari tahapan kedua atau tahap pengampunan dari Sang Maha Pengampun.

Bagaimana ibadah yang telah kita lakukan pada 10 (sepuluh) hari pertama itu, apakah sudah optimal atau belum. Jika belum, 20 (dua puluh) hari selanjutnya mestinya dapat dimanfaatkan untuk menjadi lebih baik daripada 10 (sepuluh) hari pertama.

Sebagaimana banyak diumpamakan, layaknya sebuah pertandingan, dalam proses ini pasti sudah ada beberapa kontestan yang mulai berguguran. Shof jamaah laki-laki, sudah mulai maju kedepan, yang artinya jamaah tidak sebanyak awal ramadhan.

Kebutuhan yang seringkali tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah ramadhan sudah mulai diperhitungkan. Baju baru, persiapan lebaran, hidangan lebaran, mudik menjadi kebutuhan yang kadang mulai memalingkan kita dari kekhusyukan ibadah selama 20 (dua puluh hari) akhir ramadhan.

Idealnya dengan berakhirnya tahap pertama ini, ibarat sebuah mobil. Selepas 10 (sepuluh) hari pertama ini, mestinya gigi kecepatan sudah memasuki gigi sedang dan pedal gas juga harus ditekan lebih dalam, supaya menghasilkan laju yang agak cepat.

Sikap istiqomah dalam mempersaksikan diri atas ramadhan, memang tidak mudah dijalani. Apalagi bagi pribadi-pribadi yang mempunyai kapasitas keislaman pas-pasan. Semoga di 20 (dua puluh) hari akhir ramadhan ini, kita tetap diberikan kekuatan untuk tetap istiqomah dan konsisten dalam menjalankan ibadah. Aamiin. *[adm]
Referensi : Ramadhan Perdana 1432 H | Sambut Ramadhan Mulia 1432 H

Selengkapnya → Refleksi 10 Hari Pertama Ramadhan 1432 Hijriyah

Sabtu, 16 Juli 2011

Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – QS. Al Ahqaaf [46] : 15, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)”.

Satu hal, yang menjadi penekanan pembelajaran kepada santri Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Al Hikmah Toyan, selain membaca Al Quran, adalah masalah akhlak. Di masa akhir jaman, dan derasnya kemajuan teknologi sekarang ini, nampaknya akhlak menjadi sesuatu yang mahal.

Innama bu’istu li utamima ma kharimal ahlaq. Begitu pentingnya akhlak, sehingga Rasulullah SAW diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak manusia. Berbuat baik, menghargai atau berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu bagian dari akhlak seorang anak. Terlebih kepada ibu yang telah mengandung dengan susah payah selama 9 bulan, dan melahirkan dengan taruhan nyawa.

Namun, melihat fenomena yang berkembang saat ini, nampaknya hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Anak-anak justru lebih takut, lebih patuh dan menghargai Sang Ayah daripada Ibu. Dalam hal ketaatan, anak pun cenderung lebih berani membantah kepada Ibu daripada Ayah.

Lalu, bagaimana idealnya perbuatan baik/bakti dari seorang anak kepada orang tua sebagai perwujudan/implementasi akhlak itu sendiri? Dalam masalah ini, setidaknya ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dari sisi pendekatan waktu. Pertama, ketika orang tua kita masih hidup. Hal yang perlu dilakukan adalah dengan mentaati segala keinginan mereka dengan catatan tidak bertentangan dengan nilai keislaman, mikul dhuwur mendhem jero [jawa, adm], dan menjadi anak yang dapat membahagiakan dan dibanggakan dalam arti luas.

Kedua, ketika orang tua sudah meninggal yaitu dengan cara menjaga nama baik orang tua kita itu, menjaga silaturahim dengan kerabat dan sahabat orang tua kita. Tak kalah penting ialah doa si anak, yang dapat menjadi ladang amal yang tidak terputus. Sesuai Hadits SAW, anak shaleh yang mendoakan orang tuanya. Allohu A’lam. *[adm]
Referensi : Pembentukan Watak dan Karakter | Generasi Muda Tangguh | TPA

Selengkapnya → Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

Sabtu, 18 Juni 2011

Shalat Cegah Perbuatan Keji Dan Mungkar, Solusi Krisis Moral

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Firman Allah AWT QS. Al Israa : 1, ”Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha ...”.

27 Rajab, kurang lebih 1400 tahun yang lalu, Rasululloh SAW telah diperjalankan oleh Allah SWT melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Dalam peristiwa itulah, diperintahkan shalat 5 waktu.

Mengingat betapa pentingnya sholat lima waktu, tidak seperti perintah ibadah lainnya yang disampaikan melalui Malaikat Jibril, perintah shalat disampaikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW, Sang Maksum, secara langsung.

Hal itu disampaikan oleh H. Ali Munawir, S.Pd.I, dalam pengajian rutin ibu-ibu yang biasa digelar setiap Jumat selepas Shalat Isya’ di serambi Masjid Al Hikmah Toyan, Jumat 17 Juni 2011.

Firman Allah SWT dalam QS. Al ’Ankabuut : 45, Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana shalat yang sudah kita lakukan. Sudahkah sesuai dengan yang dituntunkan Rasululloh SAW, atau baru sekedar ritual harian dan mengesahkan kewajiban.

Mengingat pentingnya shalat, sudah selayaknya kita senantiasa memperbaiki kualitas shalat kita, sampai kepada kadar mencegah perbuatan keji dan mungkar. ”Selalu perbaiki kualitas shalat kita kepada Allah SWT”, kata Ali Munawir.

Ali menambahkan, shalat bukan hanya sekedar kewajiban. Lebih dari itu, jadikan shalat sebagai kebutuhan. Shalat menjadi solusi akan krisis moral. *[adm]

Referensi : Mahasiswa Abadi | Krisis Moral Hilang Kepribadian | Masjid Pusat Kegiatan

Selengkapnya → Shalat Cegah Perbuatan Keji Dan Mungkar, Solusi Krisis Moral

Minggu, 29 Mei 2011

Menikah Bukan Terminal Terakhir

[alhikmahtoyan.blogspot.com] – Beberapa minggu ini dan kedepan, warga jamaah Masjid Al Hikmah Toyan nampaknya disibukkan dengan beberapa hajatan warga yaitu Khitanan dan Nikahan.

Hajatan yang telah dilaksanakan diantaranya khitan adik Anggita Wahyu Sulistyo Jati dan Ramadhan Fajriyanto. Kedua anak tersebut notabene adalah santri Taman Pendidikan Al Qur’an. Sementara hajat pernikahan Vidya Candra akan dilaksanakan pada Ahad, 5 Juni 2011 mendatang. Candra adalah salah satu alumni Remaja Islam Masjid Al Hikmah Toyan.

Khitan dan nikah adalah bagian dari perintah Allah SWT dan Sunnah Rasul. Dengan khitan atau nikah tersebut, diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat bagi masing-masing pribadi, dalam hal perbaikan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab atas diri dan lingkungannya.

Teringat pesan, salah satu Ustadz Al Hikmah Toyan beberapa tahun yang lalu, bahwa menikah bukan akhir dari perjuangan. Jangan “Biren - bar rabi liren” - setelah menikah terus berhenti berjuang. Biasanya setelah menikah, seseorang lebih berat kepada istri dan keluarga, daripada kepada perjuangan. Berapa banyak penggiat masjid, yang setelah menikah akhirnya berhenti dari aktivitas masjid dan perjuangannya. Allohu A’lam. *[adm]

Selengkapnya → Menikah Bukan Terminal Terakhir